Opini  

‘Kylian Mbappè, Ekspetasi, dan Adaptasi Itu’ (Sebatas Over-over Pendek)

Pater Kons Beo, SVD

Namun….

Satu alarm sudah tertiup. Dilukiskan, di Senin dinihari, 19 Agustus 2024 itu, di Stadion Son Moix, Mbappè terlihat mati ‘langkah dan mati kutu.’

Memang ada tanda-tanda awal bahwa Los Blancos segera panen gol. Apalagi di menit 13, Mallorca sudah kebobolan karena gol Rodrygo. Tapi itu yang tak terjadi!

Sebiji gol penyama oleh Muriqi di menit 53, akhirnya memaksa Real Madrid untuk balik kanan grak ke ibukota dengan hasil seri.

Mari kita melaju.

Tak usahlah hitung-hitung lagi data stastistik, bahwa misalnya, Real Madrid kuasa bola 67 persen dengan 667 operan. Sementara Mallorca cuma 33 persen penguasaan bola dengan 322 operan.

Intinya, di debut perdananya di La Lega, “Mbappè frustrasi….” Ia tak bisa leluasa untuk sanggup mencetak gol. Sungguh tak bisa! Sebuah awal yang tak manis. An unhappy starting.

Bolehlah si trainer Don Carlo bikin kritik halus bahwa gagal menang itu karena para defendernya tampak rapuh dan mudah ditembus.

Tapi, untuk urusan cetak gol buat Madrid, harapan besar sudah ditaruh publik pada kepala dan kaki Mbappè. ‘Bukan kah ia striker berkelas internasional? Dengan kualitas berdaya pikat serentak penghancur tim-tim lawan?

Bagaimana pun…

Mbappè itu sepertinya bukanlah hanya soal kualitas teknik dan taktik bermain. Lalu? Katakan saja bahwa ini soal penyesuaian hati dan batin.

Mbappè lagi beradaptasi dengan ‘atmosfere La Lega.’ Ia lagi berjuang mengubah cara pandangnya ‘dari terhadap Madrid’ dan kini kepada ‘sebagai inti dari Real Madrid.’

Praktisnya, Mbappè sudah bukan lagi insan PSG tapi kini sungguh telah jadi ‘seorang’ Real Madrid. Buat dia tentu adaptasi internal-komuniter itu amatlah mendasar.

Karena itulah…

Di awal musim ini, tak usalah Mbappè dipaksa untuk tunjukan segala ‘gara-garanya.’ Biarlah ia sesuaikan diri dulu dengan alur dan irama permaianan Real Madrid. Biarlah ia belajar tahu keunikan dan seperti apa mau-maunya para rekan pasukan inti Real Madrid itu.

Tetapi…

Bahwa kerekanan dalam Real Madrid tentu mesti terus belajar untuk beradaptasi personal batiniah. Bobot Real Madrid bukannya soal kegagahan masing-masing pemain in singular.

Tapi dalam kerekanan, yang tampak dalam kerjasama tim: dalam serbu, dan serang serta bagaimana mesti sigap agar sedapatnya tidak kebobolan oleh lawan. Semuanya demi keberhasilan atau kemenangan tim.

Mbappè, barangkali saja, hebat dan luar biasa, tak saja karena kepiawaian individunya, atau karena ia mampu menjebol gawang.

Tapi terutama bahwa ia sudah tahu ‘mau-maunya hati para rekannya’ yang menerimanya dan lalu lambungkan atau passingkan bola itu padanya. Dan dengan itu gol mesti tercipta.

Demi satu satu keberhasilan bersama…

Mbappè tak boleh jadi bintang tunggal yang bersinar di Santiago Bernabeu. Tetapi, bersama rekan-rekan setimnya, semuanya mampu menyinari dunia sepak bola Real Madrid. Dan bahkan demi sukacita suasana sepak bola sejagat.

Tidak kah demikian?

Verbo Dei Amorem Spiranti.

Penulis: Rian Laka Ma'u Editor: Redaksi

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan, Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!