
FLORESUPDATE.COM, MAUMERE – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 di Nian Tana Sikka kali ini diwarnai oleh sebuah kejutan menarik: hadirnya seorang anak muda berusia 33 tahun yang siap mengambil tanggung jawab besar untuk memimpin daerahnya.
Sosok ini, yang bernama Juventus Prima Yoris Kago atau akrab disapa JPYK, membawa angin baru ke dalam arena politik yang kerap diisi oleh wajah-wajah lama.
Di tengah-tengah kontestasi politik yang biasanya diwarnai oleh para figur dengan pengalaman panjang dan usia matang, JPYK tampil dengan keberanian yang jarang kita lihat.
Dalam sejarah politik Sikka, memang pernah ada kandidat yang mengusung gagasan anak muda sebagai kekuatan, seperti halnya Robi Idong di masa lalu.
Namun, kali ini berbeda. JPYK benar-benar muda, dan keberadaannya sebagai calon pemimpin menantang pola lama yang mungkin sudah mulai membuat masyarakat merasa jenuh.
Di usia yang masih terbilang belia, kehadiran JPYK mungkin bagi sebagian orang tampak nekat atau bahkan mengundang tawa. “Masih harus banyak belajar,” mungkin begitu kata sebagian orang.
Tapi apakah pengalaman semata yang bisa menentukan layak atau tidaknya seseorang memimpin?
Sejarah selalu membuktikan bahwa usia tidak menjadi penentu mutlak. Di era yang serba cepat dan dinamis ini, anak muda justru sering kali hadir dengan energi, gagasan segar, dan idealisme yang menjadi pondasi perubahan besar.
Siapa bilang mereka belum siap? Banyak pemimpin muda di berbagai belahan dunia yang sudah membuktikan diri bahwa mereka mampu membawa perubahan positif, bahkan lebih cepat dari yang diduga banyak orang.
Keberanian JPYK untuk maju dalam Pilkada Sikka 2024 ini bisa jadi tonggak baru peradaban politik di Nian Tana.
Dengan langkahnya yang berani, JPYK menunjukkan bahwa politik bukan hanya milik generasi terdahulu. Generasi muda juga memiliki hak, kesempatan, dan daya juang untuk membawa perbaikan bagi tanah kelahirannya.
Keputusannya untuk terjun ke politik bisa menjadi inspirasi bagi ribuan anak muda lainnya di Nian Tana Sikka—bahwa mereka juga bisa berkontribusi untuk daerahnya, bahwa mereka punya suara yang pantas didengar.
Masyarakat Sikka mungkin sudah sampai pada titik di mana wajah-wajah lama dan sistem yang itu-itu saja mulai terasa jenuh. Munculnya figur muda yang berani melangkah memberikan secercah harapan baru.
Dalam keraguan dan cibiran yang mungkin ia terima, JPYK tetap melangkah dengan kepala tegak. Langkahnya memberi pesan penting: terkadang, “aksi nekat” yang dilakukan dengan tujuan yang mulia bisa mengubah arah peradaban.
Apakah JPYK akan terpilih atau tidak, itu urusan nanti. Namun, yang jelas, kehadirannya telah menanamkan satu gagasan di benak banyak orang: politik bukanlah monopoli generasi tua.
Anak muda juga punya tempat, bahkan bisa menjadi agen perubahan yang dibutuhkan. JPYK telah membuka pintu bagi generasi muda lain untuk bermimpi dan berani bertindak.
Mungkin, di sinilah dimulainya era baru politik Sikka—era di mana gagasan segar dan semangat muda tidak lagi menjadi sekadar pilihan alternatif, tetapi sebagai jalan utama menuju perubahan. (**)


