
FloresUpdate.com, Maumere – Proyek rehabilitasi air bersih yang dicanangkan di Desa Kopong, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, ternyata menjadi cerita kekecewaan bagi warganya.
Proyek yang menggunakan dana pinjaman daerah sebesar Rp 907.889.658 dari PT SMI tahun anggaran 2023 itu hingga kini tidak memberikan manfaat sesuai harapan.
Warga setempat mengungkapkan, meski meteran sambungan air sudah terpasang di rumah-rumah mereka, air bersih yang dijanjikan tidak pernah mengalir.
Yohanes Nong Hercelis, salah seorang warga yang mewakili suara masyarakat Desa Kopong, mengatakan, mereka sangat mengharapkan proyek ini bisa menjawab kebutuhan air bersih yang telah lama mereka rasakan.
Selama bertahun-tahun, warga bergantung pada air hujan atau membeli air tangki dengan harga mahal, sekitar Rp120.000 hingga Rp150.000 per tangki ketika musim kemarau.
“Kami sudah sangat menginginkan air bersih. Selama ini kami hanya mengandalkan air hujan atau membeli tangki air dengan harga yang sangat tinggi. Dengan adanya proyek ini, kami berharap hidup kami bisa lebih baik,” kata Hercelis, Minggu, 5 Januari 2025.
Namun, kenyataan yang mereka hadapi jauh dari yang diharapkan. Setelah pemasangan meteran di setiap rumah warga, air yang diharapkan tak kunjung mengalir.
“Meteran sudah dipasang, tapi airnya nggak ada. Bahkan saat uji coba tahun lalu, air sempat keluar, tapi setelah itu berhenti dan tidak pernah ada lagi. Ini sangat mengecewakan,” ungkap Hercelis.
Hal ini membuat warga semakin frustasi dan mendesak aparat penegak hukum (APH) di Kabupaten Sikka untuk segera mengusut tuntas dugaan penyimpangan dalam proyek ini.
Menurut mereka, meskipun anggaran besar telah dikeluarkan untuk proyek ini, warga tak pernah merasakan manfaatnya.
“Kami minta kepada Polres Sikka dan Kejaksaan Negeri Maumere untuk segera melakukan audit dan pemeriksaan atas proyek ini. Kami tidak pernah merasakan manfaatnya, padahal dana sudah dikeluarkan. Kami ingin tahu di mana letak kesalahannya,” tegas Hercelis.
Warga juga sangat kecewa karena mereka merasa telah dipermainkan. Pada saat uji coba di tahun 2023, meskipun air sempat mengalir, harapan itu tidak bertahan lama. Setelah uji coba tersebut, air kembali tidak keluar hingga kini.
“Kami hanya ingin air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Kami sudah terlalu lama menderita karena kesulitan air,” tambah Hercelis.
Pada kesempatan yang sama, Hercelis juga menyampaikan harapannya agar penegak hukum bisa bertindak cepat pada awal tahun 2025 ini.
“Kami berharap Kejaksaan Negeri Maumere dan Polres Sikka bisa turun tangan untuk membantu kami dan menindak oknum-oknum yang bertanggung jawab atas kegagalan proyek ini,” ujarnya.
Menurutnya, jika keluhan masyarakat tidak ditindaklanjuti dengan serius, ia akan melaporkan masalah ini langsung ke Kejaksaan Negeri Sikka.
“Kami tidak akan tinggal diam. Jika tidak ada langkah nyata dari pemerintah, kami akan melapor lebih lanjut untuk mendapatkan keadilan,” tegas Hercelis.
Proyek rehabilitasi air bersih yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup warga Desa Kopong justru kini menjadi sumber kekecewaan.
Warga berharap adanya kejelasan dan tindakan tegas dari pihak berwenang untuk memastikan bahwa dana yang telah digelontorkan untuk proyek tersebut tidak sia-sia, dan mereka akhirnya bisa menikmati air bersih yang telah lama dinanti.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas PUPR Kabupaten Sikka, Juventus Gajon, yang dikonfirmasi terpisah pada hari yang sama menjelaskan proses dan tahapan sudah dilewati sampai pada uji coba hanya saja masih ada kendala teknis yang berakibat belum bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.
“Sehingga kendala sekarang yang ada kita harus cari jalan keluarnya agar asas manfaat untuk masyarakat tetap kita optimalisasikan kembali,” ujar Juventus Gajon. (Albert Cakramento)


