Minggu, 6 September 2026
Indonesia kembali berduka.
FLORESUPDATE.COM, OPINI – Dalam waktu yang relatif berdekatan, berbagai musibah datang silih berganti. Gunung meletus, bumi berguncang, hutan dan lahan terbakar, abu vulkanik menyelimuti udara, sementara di berbagai daerah masyarakat harus menghadapi kehilangan anggota keluarga, rumah, mata pencaharian, dan rasa aman.
Kita semua tentu menyampaikan rasa prihatin dan duka yang mendalam kepada saudara-saudara kita yang menjadi korban. Semoga mereka yang meninggal dunia memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, mereka yang terluka segera diberikan kesembuhan, dan keluarga serta masyarakat yang terdampak diberikan kekuatan untuk bangkit kembali.
Namun di tengah begitu banyaknya peristiwa ini, ada pertanyaan yang patut kita renungkan:
Apakah semua ini semata-mata fenomena alam, ataukah alam sedang mengingatkan manusia agar kembali
hidup dengan lebih bijaksana?
Secara ilmiah, gempa bumi dan aktivitas gunung api di Indonesia berkaitan erat dengan kondisi geologis wilayah kita yang berada pada pertemuan beberapa lempeng tektonik aktif dan termasuk dalam kawasan Ring of Fire. Karena itu, gempa bumi dan letusan gunung api merupakan bagian dari proses alam yang terjadi akibat dinamika bumi.
Namun demikian, setiap musibah yang terjadi hendaknya tidak hanya dipandang sebagai peristiwa alam semata, tetapi juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk meningkatkan kewaspadaan, memperkuat kesiapsiagaan, menjaga lingkungan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Sebagai manusia yang beriman, musibah juga dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri apakah selama ini kita sudah menjaga alam dengan baik, menghargai kehidupan sesama, menjalankan setiap amanah dengan jujur dan penuh tanggung jawab, serta bersikap adil dalam setiap keputusan dan tindakan. Dari setiap musibah, semoga kita dapat belajar untuk menjadi pribadi dan masyarakat yang lebih peduli, lebih bijaksana, dan lebih bertanggung jawab.
Rangkaian Musibah yang Mengingatkan Kita
- Anak Krakatau kembali bergemuruh — 4–6 September 2026
Meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda tidak hanya menimbulkan ancaman di sekitar kawasan gunung, tetapi juga memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Sebaran abu vulkanik dapat mengotori rumah, kendaraan, jalan, tanaman, dan sumber air, sekaligus menimbulkan gangguan kesehatan seperti iritasi mata, tenggorokan, serta gangguan pernapasan.
Dampak lainnya sangat terasa pada transportasi dan penerbangan, karena abu vulkanik dapat menyebabkan keterlambatan, pengalihan rute, bahkan pembatalan penerbangan. Akibatnya, perjalanan dinas, pertemuan bisnis, kegiatan pemerintahan, distribusi barang, pariwisata, dan berbagai agenda penting ikut terganggu atau batal dilaksanakan.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa erupsi gunung api bukan hanya persoalan alam, tetapi juga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat, mobilitas, kegiatan ekonomi, bisnis, pendidikan, logistik, dan aktivitas sosial sehari-hari.
BMKG pada 6 September 2026 juga mendeteksi dua kelompok sebaran abu vulkanik yang mempengaruhi wilayah mulai dari Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. Pemantauan terhadap penerbangan, atmosfer dan kondisi Selat Sunda terus dilakukan selama 24 jam.
Kita kembali diingatkan betapa kecilnya manusia ketika bumi menunjukkan kekuatannya.
- Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra — awal September 2026
Pada saat Anak Krakatau bergemuruh, sebagian wilayah Indonesia lainnya juga menghadapi kebakaran hutan dan lahan, terutama di Kalimantan dan Sumatra. Dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi telah meluas menjadi kabut asap lintas batas yang mempengaruhi negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei, bahkan sebagian wilayah Filipina.
Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara, meningkatkan risiko gangguan pernapasan, mengurangi jarak pandang, serta mengganggu penerbangan, aktivitas sekolah, transportasi, pariwisata, dan kegiatan ekonomi. Kondisi ini juga menjadi perhatian negara-negara tetangga karena masalah karhutla Indonesia dapat langsung mempengaruhi kesehatan dan kehidupan masyarakat mereka.
Karhutla berbeda dengan gempa bumi atau letusan gunung api karena faktor manusia dapat berperan besar dalam memperburuk kebakaran, terutama melalui pembukaan lahan, pembakaran, dan lemahnya pengelolaan lingkungan. Karena itu, pencegahan, penegakan hukum, pengawasan perusahaan, serta perlindungan hutan dan lahan gambut harus dilakukan secara konsisten.
Ketika asap dari Indonesia telah sampai ke negara tetangga, persoalannya bukan lagi hanya mengenai lingkungan, tetapi juga menyangkut kesehatan jutaan manusia, hubungan antarnegara, reputasi Indonesia, serta tanggung jawab kita sebagai bagian dari masyarakat ASEAN. Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat besar; karena itu, dunia juga berharap Indonesia mampu menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan tanpa harus mengorbankan hutan, kesehatan masyarakat, dan lingkungan hidup.
- Gunung Sinabung kembali meningkat — 31 Agustus 2026
Di Sumatera Utara, aktivitas Gunung Sinabung kembali meningkat. Badan Geologi menaikkan status Sinabung dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 31 Agustus 2026, setelah pemantauan menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik dan terjadinya erupsi.
Dampaknya langsung dirasakan masyarakat di sekitar gunung. Abu vulkanik dapat menutupi rumah, jalan, lahan pertanian, dan sumber air, serta menimbulkan gangguan kesehatan seperti iritasi mata, batuk, dan gangguan pernapasan. Aktivitas pertanian dan perkebunan juga dapat terganggu karena tanaman tertutup abu, sementara warga di zona rawan harus membatasi kegiatan atau bahkan bersiap untuk dievakuasi apabila aktivitas gunung terus meningkat.
Selain itu, erupsi dapat mengganggu transportasi, kegiatan sekolah, perdagangan, pekerjaan sehari-hari, serta perekonomian masyarakat lokal. Karena itu, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan, menggunakan perlindungan terhadap abu vulkanik, dan mematuhi zona keselamatan serta arahan resmi dari pemerintah.
- Gunung Semeru — Jawa Timur, Agustus–September 2026
Di Jawa Timur, Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa, juga terus menunjukkan aktivitas vulkanik. Semeru termasuk enam gunung api Indonesia yang tercatat mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Bahkan pada 6 September, Semeru kembali dilaporkan erupsi dan mengeluarkan abu sekitar satu kilometer di atas puncaknya.
Bagi masyarakat di sekitar Lumajang dan Malang, aktivitas Semeru bukan sekadar pemandangan gunung mengeluarkan abu. Ancaman dapat berupa hujan abu, guguran material, awan panas, serta lahar yang mengikuti aliran sungai berhulu di Semeru.
Abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, mengotori rumah dan sumber air, menutupi lahan pertanian serta mengurangi jarak pandang. Kegiatan sekolah, perdagangan, transportasi, pertanian dan pariwisata juga dapat terkena dampaknya.
Bagi petani yang menggantungkan kehidupan pada tanah di lereng gunung, kehilangan tanaman berarti kehilangan pendapatan keluarga.
Bagi pelaku wisata, terganggunya akses menuju Semeru berarti berkurangnya wisatawan dan pemasukan bagi penginapan, warung, jasa transportasi serta pemandu lokal.
- Gunung Ibu — Halmahera Barat, Maluku Utara
Di wilayah Indonesia Timur, Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, juga terus menunjukkan aktivitas erupsi dan termasuk di antara enam gunung api yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026.
Aktivitas yang terus berulang membuat masyarakat di sekitar gunung harus hidup dalam kewaspadaan. Hujan abu dapat menutupi atap rumah, jalan, kebun, tanaman dan sumber air, sekaligus menimbulkan iritasi mata dan gangguan saluran pernapasan.
Bagi masyarakat yang sebagian kehidupannya bergantung pada pertanian dan perkebunan, abu vulkanik dapat mengganggu tanaman dan menurunkan hasil produksi. Ketika aktivitas meningkat, masyarakat juga harus membatasi kegiatan di luar rumah, sementara sekolah, perdagangan dan transportasi dapat terganggu.
Kehidupan di sekitar gunung api akhirnya bukan hanya persoalan menghindari letusan, tetapi juga bagaimana masyarakat tetap bekerja, menyekolahkan anak, menjaga kesehatan dan memperoleh penghasilan dalam situasi yang penuh ketidakpastian.
- Gunung Lewotobi Laki-laki — Flores Timur, 27 Agustus 2026
Saudara-saudara kita di Flores Timur hingga kini masih harus hidup berdampingan dengan ancaman Gunung Lewotobi Laki-laki. Pada 27 Agustus 2026, gunung ini kembali mengalami erupsi dengan kolom abu mencapai sekitar 2.500 meter di atas puncak.
Dampaknya sangat nyata bagi masyarakat. Abu vulkanik dapat menutupi rumah, jalan, kebun, tanaman, sumber air, dan fasilitas umum, serta menimbulkan gangguan kesehatan seperti iritasi mata dan saluran pernapasan. Aktivitas pertanian, sekolah, perdagangan, transportasi, dan kehidupan sehari-hari ikut terganggu.
Bagi sebagian warga, dampaknya bahkan jauh lebih berat karena mereka harus meninggalkan kampung halaman dan hidup dalam hunian sementara (huntara) untuk waktu yang panjang.
Persoalan yang masih dirasakan masyarakat adalah masa depan relokasi dan hunian tetap. Pemerintah sebenarnya telah menetapkan sejumlah desa yang perlu direlokasi dan beberapa lokasi calon hunian tetap juga telah dipersiapkan. Namun prosesnya menghadapi berbagai kendala, termasuk kesiapan lahan, status kawasan, persoalan tanah ulayat, serta pembangunan hunian tetap.
Pada Juli 2026, BNPB masih berdialog langsung dengan warga di Huntara Konga untuk mendengar keluhan dan mempercepat solusi pemulihan jangka panjang.
Karena itu, bagi masyarakat terdampak, persoalannya bukan lagi sekadar menghadapi letusan dan abu vulkanik, tetapi juga menunggu kepastian kapan mereka dapat kembali memiliki rumah yang aman, lahan untuk bekerja, sekolah bagi anak-anak, serta kehidupan yang normal dan berkelanjutan.
Mereka membutuhkan bukan hanya bantuan pada saat bencana terjadi, tetapi juga kepastian dan percepatan penyelesaian relokasi agar tidak terlalu lama hidup dalam ketidakpastian.
- Gempa besar M7,7 mengguncang Flores dan NTT — 15 Agustus 2026
Belum hilang dari ingatan kita bencana besar yang mengguncang Pulau Flores dan wilayah Nusa Tenggara Timur pada 15 Agustus 2026. Gempa berkekuatan M7,7 yang berpusat di laut dekat Nagekeo dirasakan sangat kuat di berbagai wilayah NTT, bahkan guncangannya juga dirasakan hingga Bima, NTB, dan sebagian Sulawesi Selatan. Gempa tersebut sempat memicu peringatan dini tsunami.
Dampaknya sangat luas dan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Korban jiwa terus bertambah dalam proses pendataan, sementara ratusan orang mengalami luka-luka dan ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah untuk mengungsi.
Pada hari pertama saja, lebih dari 5.000 warga dilaporkan berada di lokasi pengungsian, terutama di Sikka, Manggarai, dan Nagekeo.
Kerusakan fisik juga sangat besar. Rumah-rumah warga mengalami kerusakan ringan hingga berat, bahkan sebagian roboh dan tidak lagi aman untuk ditempati. Fasilitas umum ikut terdampak, termasuk sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah, kantor pemerintahan, jalan, jaringan listrik dan komunikasi.
Pada laporan awal BNPB, puluhan fasilitas pendidikan dan kesehatan telah mengalami kerusakan, sementara pendataan selanjutnya menunjukkan kerusakan rumah mencapai ribuan unit.
Gempa juga mengganggu listrik dan jaringan komunikasi, sehingga pada masa awal bencana masyarakat di sejumlah wilayah mengalami kesulitan berkomunikasi, memperoleh informasi, dan menghubungi keluarga. Pemulihan jaringan dilakukan secara bertahap oleh pemerintah dan penyedia layanan.
Bagi masyarakat, kerugian tidak hanya berupa bangunan yang rusak. Banyak keluarga kehilangan rumah, anggota keluarga, mata pencaharian, ternak, hasil kebun, dan sumber penghasilan.
Aktivitas sekolah terganggu, kegiatan perdagangan terhenti, perjalanan dan distribusi barang menjadi sulit, sementara sebagian masyarakat harus tinggal dalam pengungsian dengan keterbatasan air bersih, sanitasi, makanan, layanan kesehatan, dan ruang yang layak.
Dampak psikologis juga tidak kalah berat. Ribuan gempa susulan membuat masyarakat terus hidup dalam ketakutan, bahkan sebagian warga memilih tidur di luar rumah atau di ruang terbuka karena khawatir bangunan akan roboh. Anak-anak, lansia, dan keluarga yang kehilangan anggota keluarganya menghadapi trauma yang tidak dapat dipulihkan hanya dalam hitungan hari.
Per 28 Agustus 2026, korban meninggal dilaporkan telah mencapai 111 jiwa, sementara gempa susulan telah tercatat sebanyak 8.794 kali. Angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap korban terdapat keluarga, orang tua, anak, saudara, dan sahabat yang kehilangan orang yang mereka cintai.
Bencana ini memperlihatkan bahwa satu gempa besar dapat menimbulkan rangkaian dampak yang panjang: kehilangan nyawa, kehancuran rumah, terganggunya pendidikan dan pelayanan kesehatan, putusnya aktivitas ekonomi, rusaknya infrastruktur, pengungsian, trauma psikologis, hingga kebutuhan pemulihan yang dapat berlangsung bertahun-tahun.
Kepada saudara-saudara kita di Nagekeo, Ende, Sikka, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada dan seluruh wilayah Flores serta NTT yang terdampak, kita menyampaikan rasa duka dan keprihatinan yang sedalam-dalamnya. Yang mereka butuhkan bukan hanya bantuan pada saat tanggap darurat, tetapi juga kepastian hunian, pemulihan mata pencaharian, pembangunan kembali sekolah dan fasilitas kesehatan, serta pendampingan agar kehidupan mereka dapat kembali berjalan dengan layak dan aman.
- Gunung Ili Lewotolok — Lembata, 22 Juni 2026
Sebelumnya, masyarakat Pulau Lembata juga harus menghadapi aktivitas Gunung Ili Lewotolok. Pada 22 Juni 2026, gunung tersebut mengalami erupsi dengan kolom abu sekitar 600 meter di atas puncak, dengan abu tebal bergerak ke arah barat.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di sekitar lereng gunung, tetapi juga mempengaruhi kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Lembata dan sekitarnya. Hujan abu dapat menutupi rumah, jalan, kebun, tanaman pertanian, sumber air, dan fasilitas umum, sekaligus menimbulkan gangguan kesehatan seperti iritasi mata, batuk, sesak napas, dan gangguan saluran pernapasan.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, dan perdagangan lokal, abu vulkanik dapat menurunkan hasil produksi, merusak tanaman, mengganggu kualitas air dan pakan ternak, serta menghambat aktivitas ekonomi sehari-hari. Ketika aktivitas gunung meningkat, kegiatan sekolah, perjalanan masyarakat, transportasi darat maupun laut, serta aktivitas di luar rumah juga dapat terganggu.
- Gempa besar Maluku Utara — 2 April 2026
Pada 2 April 2026, gempa berkekuatan M7,6 mengguncang kawasan Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara. BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, sehingga masyarakat di wilayah pesisir harus segera meningkatkan kewaspadaan dan bergerak menuju tempat yang lebih aman.
Dampaknya tidak hanya berupa guncangan kuat, tetapi juga kepanikan, evakuasi warga, terganggunya aktivitas sekolah, pekerjaan, perdagangan, transportasi laut, pelabuhan, serta kegiatan ekonomi masyarakat pesisir. Dalam situasi seperti ini, keluarga harus meninggalkan rumah dengan cepat, orang tua berusaha memastikan keselamatan anak-anak, sementara masyarakat menunggu kepastian apakah tsunami benar-benar akan terjadi.
Gempa dan ancaman tsunami juga menimbulkan tekanan psikologis yang besar, terutama bagi masyarakat yang tinggal dekat pantai. Ketakutan terhadap gempa susulan dan kemungkinan gelombang tsunami membuat sebagian warga enggan kembali ke rumah sebelum kondisi dinyatakan aman.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa gempa besar bukan hanya persoalan kekuatan magnitudo, tetapi juga dapat mempengaruhi rasa aman, mobilitas, pendidikan, perdagangan, transportasi, kegiatan ekonomi, serta kondisi psikologis masyarakat. Karena itu, sistem peringatan dini, jalur evakuasi, kesiapsiagaan masyarakat, dan informasi resmi yang cepat menjadi sangat penting untuk mengurangi risiko korban.
- Gempa Pacitan — 6 Februari 2026
Pada awal tahun, 6 Februari 2026, wilayah Pacitan dan sekitarnya juga diguncang gempa kuat. Analisis terbaru BMKG mencatat magnitudonya M6,2, dengan pusat gempa di laut tenggara Pacitan dan tidak berpotensi tsunami.
Dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, Maluku hingga Nusa Tenggara, tahun 2026 kembali mengingatkan kita bahwa Indonesia adalah negeri yang indah tetapi sekaligus berada di wilayah dengan risiko bencana yang tinggi.
Mengingat Pesan Ebiet G. Ade
Ketika berbagai musibah datang berturut-turut, sulit rasanya untuk tidak teringat pada karya Ebiet G. Ade, khususnya lagu “Berita Kepada Kawan.”
Lagu tersebut menggambarkan penderitaan manusia setelah bencana: tanah berubah, kehidupan terguncang, rumah dan penghidupan hilang, lalu manusia mulai bertanya tentang hubungannya dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.
Salah satu penggalan yang sangat dikenal berbunyi:
“Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita.”
Kalimat itu tentu tidak berarti bahwa setiap bencana adalah hukuman Tuhan. Justru kekuatan pesannya terletak pada introspeksi.
Musibah seakan mengajak kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita sudah memperlakukan alam dengan benar? Apakah kita masih peduli terhadap sesama? Apakah jabatan dan kekuasaan benar-benar digunakan untuk melayani? Apakah pembangunan dilakukan untuk kesejahteraan bersama? Apakah kita masih mau mendengar suara mereka yang lemah? Dan apakah keserakahan manusia telah membuat kita lupa bahwa bumi ini bukan hanya milik kita hari ini, tetapi juga milik generasi yang akan datang?
Apakah Alam Sudah Tidak Berdamai dengan Indonesia?
Secara ilmiah, kita tidak dapat mengatakan bahwa alam sedang marah kepada Indonesia. Gempa bumi terjadi karena pergerakan lempeng tektonik. Gunung api meletus karena dinamika magma dan tekanan di dalam bumi. Cuaca ekstrem pun memiliki mekanisme atmosfernya sendiri.
Namun ada bencana yang dampaknya dapat diperparah oleh perilaku manusia.
Hutan yang dibakar, bukit yang digunduli, daerah resapan yang hilang, sungai yang rusak, tambang yang tidak direhabilitasi, tata ruang yang mengabaikan risiko, pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan, serta lemahnya pengawasan dapat membuat sebuah bencana menjadi jauh lebih merusak.
Karena itu, mungkin pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan:
“Mengapa alam seakan marah kepada kita?”
Melainkan:
“Sudahkah kita benar-benar hidup berdamai dengan alam, menjaganya dengan penuh tanggung jawab, serta memperlakukan sesama dengan jujur, adil, dan penuh kepedulian?”
Pesan kepada Pemerintah dan Para Pemimpin
Di tengah berbagai musibah ini, ada pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar angka korban, luas kerusakan, dan nilai kerugian. Kepada siapa pun yang diberikan amanah memimpin, dari tingkat paling tinggi sampai paling bawah:
Bekerjalah dengan jujur.
Jangan mengatakan keadaan baik-baik saja apabila kenyataannya tidak demikian. Jangan menyembunyikan masalah demi menjaga citra. Jangan menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, kelompok, atau siapa pun yang dekat dengan kekuasaan.
Jangan korupsi.
Uang negara bukan uang penguasa. Itu adalah uang rakyat. Di dalam setiap rupiah APBN dan APBD terdapat hasil kerja pedagang kecil, petani, nelayan, buruh, guru, tenaga kesehatan, pengusaha, dan jutaan rakyat Indonesia.
Anggaran penanggulangan bencana jangan diselewengkan. Dana rehabilitasi rumah korban jangan dipotong.
Anggaran pembangunan tanggul, jalan, sekolah, rumah sakit, jembatan, sistem peringatan dini, dan fasilitas keselamatan jangan dijadikan tempat mencari keuntungan pribadi.
Karena ketika kualitas pembangunan dikurangi akibat korupsi, yang membayar harganya bukan hanya negara, tetapi rakyat, bahkan mungkin dengan nyawa mereka.
Pesan kepada DPR dan Para Pembuat Undang-Undang
Kepada DPR, DPRD



