Floresupdate.com – Denpasar, 30 November 2025. Di tengah riuhnya denyut kreatif Pulau Dewata, muncul satu nama yang belakangan semakin banyak diperbincangkan para kolektor, pecinta seni, hingga komunitas hukum: Hilarius Mali Asa, SH. Putra asli Holgotok, Lamaknen, Belu, ini membawa jejak budaya Timor dari kaki Gunung Lakaan menuju panggung seni Bali. Sebuah perjalanan panjang yang dituntun oleh kecintaan pada identitas, ketekunan, dan integritas.
Akar yang Menghidupkan Karya
Lahir dan besar di lingkungan yang sarat nilai tradisi, Hilarius, yang akrab disapa Hila, telah menyerap kekayaan budaya Timor sejak kecil. Ornamen rumah adat, patung kayu, simbol-simbol leluhur, serta dinamika kehidupan masyarakat Timor membentuk kepekaan artistiknya. Apa yang ia lihat menjadi inspirasi, apa yang ia rasakan menjadi identitas.
Budaya itu tumbuh bersamanya. Bahkan ketika ia merantau jauh ke Bali, akar itu tidak pernah ia tinggalkan. Dari situlah lahir Lakaan Timor Primitive, sebuah brand yang menghadirkan karya seni kayu, furnitur etnik, artefak antik, dan ornamen tradisional dengan karakter visual yang kuat. Setiap karya diolah bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan nilai-nilai warisan leluhur yang melekat kuat di batinnya.
Baginya, seni bukan sekadar kemampuan mengolah kayu. Seni adalah bahasa untuk menyampaikan ruh, ingatan, dan kisah orang Timor kepada dunia.
Bali: Gerbang Pembuktian dan Pengakuan
Merantau ke Bali adalah keputusan besar. Pulau ini bukan sekadar pusat pariwisata; Bali adalah panggung di mana kreativitas diuji dan kualitas menentukan segalanya. Persaingan ketat tidak menciutkan hati Hila. Justru dari sanalah ia membuktikan bahwa ciri khas budaya Timor mampu berdiri sejajar dengan estetika global.
Di bawah brand Lakaan Timor Primitive, karyanya semakin dilirik:
kolektor seni ingin memiliki karya bercorak etnik yang otentik,
pelaku desain interior mencari objek yang kuat secara visual,
wisatawan membutuhkan cendera mata berkarakter tinggi,
dan komunitas seni mulai melihatnya sebagai penggerak seni tribal kontemporer dari Nusa Tenggara Timur.
Tidak sedikit pecinta seni yang menyebut karya Hila sebagai “perpaduan kejujuran tradisi dan keberanian modern.” Setiap ukiran, setiap tekstur, dan setiap simbol seakan menghidupkan kembali spirit tanah Timor dalam bentuk yang lebih segar.
Dari Studio Kayu ke Ruang Hukum
Yang membuat nama Hila semakin menarik perhatian publik adalah perjalanannya yang tidak berhenti pada seni. Dengan komitmen pada nilai keadilan dan integritas, ia menapaki profesi sebagai seorang Advokat.
Dua dunia yang ia jalani tampak berbeda—seni dan hukum, tetapi keduanya ternyata berakar pada hal yang sama: keteguhan karakter.
Di dunia seni, ia mengekspresikan idealisme.
Di dunia hukum, ia memperjuangkan prinsip.
Hila melihat profesi advokat sebagai panggilan pengabdian. Menurutnya, membela hak seseorang adalah bentuk lain dari menghormati martabat manusia, nilai yang sama yang ingin ia jaga ketika berkarya. Itulah yang membuat banyak pihak memandangnya sebagai figur muda dengan integritas yang kuat.
Figur Dua Dunia, Satu Dedikasi
Tidak banyak orang yang mampu menyeberangi dua ranah sekaligus dengan konsisten. Namun Hilarius Mali Asa, SH melakukannya dengan keyakinan dan visi yang matang. Di satu sisi, ia terus berkarya dan memperkuat eksistensi seni primitif Timor di Bali. Di sisi lain, ia berkomitmen memberikan pelayanan hukum dengan penuh tanggung jawab.
Keduanya menjadikan Hila sebagai figur yang:
meleburkan akar tradisi dengan dinamika zaman,
memadukan ekspresi kreatif dengan etika profesional,
dan membawa nama Timor ke ranah yang lebih luas.
Kisah yang Menginspirasi Banyak Kalangan
Perjalanan hidupnya kini menjadi inspirasi bagi:
generasi muda Timor yang ingin merantau dan berkarya,
pelaku seni etnik Indonesia yang ingin menembus pasar global,
serta masyarakat luas yang menilai bahwa seorang anak kampung dapat berdiri tegak di panggung nasional melalui kerja keras dan karakter.
Kisahnya bukan sekadar tentang seni atau profesi hukum. Ini adalah kisah tentang jati diri, keberanian, dan pengabdian.
Arah ke Depan
Hila tidak berhenti. Ia terus mengembangkan Lakaan Timor Primitive sebagai wadah promosi budaya Timor, sekaligus memperkuat kiprahnya sebagai advokat. Ia percaya bahwa budaya dan keadilan adalah dua pilar penting untuk membangun masyarakat yang bermartabat.
Dengan dua dunia yang terus ia jalani, Hilarius Mali Asa, SH berdiri sebagai simbol generasi baru Timor: kreatif, berani, intelektual, dan berintegritas.


