“Sedia payung sebelum hujan, sedia pangan sebelum bencana.” Dr.Ir. Karolus Karni Lando, MBA
Floresupdate.com, Opini – Gempa bumi yang mengguncang Flores memberikan pelajaran penting bahwa ketahanan menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh kekuatan bangunan, kesiapan tim penyelamat, dan kecepatan bantuan pemerintah. Ketahanan bencana juga sangat bergantung pada kemampuan masyarakat menyediakan pangan bagi keluarganya ketika jalan terputus, pasar tutup, jaringan komunikasi terganggu, dan bantuan dari luar belum tiba.
Dalam keadaan darurat seperti sekarang, bantuan pemerintah dan masyarakat tentu sangat dibutuhkan. Korban tidak boleh disalahkan karena mengalami kesulitan memperoleh makanan. Rumah, dapur, peralatan memasak, dan persediaan pangan dapat rusak atau tertimbun reruntuhan. Sebagian warga juga harus meninggalkan rumah karena gempa susulan. Kebun yang mereka miliki mungkin berada beberapa kilometer dari rumah dan sulit dijangkau karena jalan rusak atau tertutup longsor.
Namun, di balik keadaan tersebut, kita perlu melakukan refleksi yang lebih mendalam: seberapa kuat ketahanan pangan keluarga dan desa-desa di Flores?
PETANI ADALAH PENJAGA KEHIDUPAN
Selama ini, pekerjaan sebagai petani sering dianggap kurang menjanjikan. Banyak anak muda ingin menjadi PNS atau bekerja di kantor karena pekerjaan tersebut dipandang lebih terhormat, memberikan penghasilan tetap, memungkinkan mereka memakai pakaian bersih, dan bekerja di ruangan berpendingin.
Tidak ada yang salah dengan cita-cita menjadi PNS, guru, dokter, pegawai swasta, atau bekerja di kantor. Semua pekerjaan mempunyai fungsi dan kehormatannya masing-masing. Persoalan muncul ketika pekerjaan petani dipandang lebih rendah, padahal seluruh pegawai, pejabat, dokter, guru, pengusaha, dan masyarakat membutuhkan pangan yang dihasilkan petani.
Petani bukan pekerjaan kelas dua. Petani adalah produsen pangan, penjaga tanah, penggerak ekonomi desa, dan penyangga kehidupan masyarakat. Ketika terjadi gempa, kekeringan, gangguan transportasi, atau krisis ekonomi, keberadaan petani dan persediaan pangan lokal menjadi salah satu kekuatan utama yang dapat menyelamatkan masyarakat.
Data BPS menunjukkan sekitar 51,13% penduduk bekerja di Provinsi Nusa Tenggara Timur berada dalam sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Angka tersebut diatas merupakan data seluruh NTT, belum khusus Pulau Flores. Sektor ini juga mencakup perkebunan, peternakan, kehutanan, dan perikanan, bukan hanya pertanian tanaman pangan. Saya memperkirakan banyak keluarga tidak lagi mempunyai persediaan beras, jagung, atau ubi dari hasil pertanian mereka sendiri. Mereka membeli tanaman pangan dari luar Propinsi.
MENJADI PEKERJA PERTANIAN BELUM TENTU MEMPUNYAI CADANGAN PANGAN
Masyarakat yang tercatat bekerja dalam sektor pertanian belum tentu menanam tanaman pangan. Ada yang menanam kopi, kakao, kemiri, cengkeh, kelapa, atau jambu mete. Ada pula yang bekerja sebagai peternak, nelayan, buruh tani, dan pekerja kehutanan.
Sebagian petani langsung menjual hasil panen untuk membayar biaya sekolah, kesehatan, listrik, kebutuhan rumah tangga, dan cicilan. Akibatnya, meskipun bekerja sebagai petani, mereka belum tentu mempunyai cadangan pangan yang cukup untuk menghadapi keadaan darurat.
Hal ini menunjukkan bahwa Flores tidak hanya membutuhkan peningkatan jumlah petani, tetapi juga perlu mendorong lebih banyak keluarga untuk menanam tanaman pangan dan menyimpan sebagian hasil panennya sebagai cadangan.
BELAJAR DARI NABI YUSUF
Kisah Nabi Yusuf tentang menyimpan hasil panen selama tujuh tahun masa kelimpahan untuk menghadapi tujuh tahun kelaparan merupakan prinsip manajemen risiko yang sangat relevan. Pesannya sederhana: ketika keadaan sedang baik, kita harus mempersiapkan diri menghadapi keadaan yang buruk.
Prinsip tersebut seharusnya diterapkan pada tiga tingkatan:
- Setiap keluarga mempunyai cadangan pangan darurat.
- Setiap desa mempunyai lumbung pangan bersama.
- Pemerintah kabupaten dan provinsi mempunyai gudang penyangga di lokasi strategis.
Cadangan pangan keluarga tidak harus selalu berupa beras. Flores memiliki berbagai pangan lokal yang dapat disimpan atau diolah, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, sorgum, kacang-kacangan, pisang, ikan kering, dan hasil kebun lainnya.
Kebun keluarga dengan ubi, pisang, jagung, kelor, kacang-kacangan, dan tanaman pangan lokal perlu dipertahankan. Akan lebih baik apabila sebagian tanaman pangan ditanam di pekarangan atau lahan yang relatif dekat dengan rumah. Jika seluruh kebun berada beberapa kilometer dari permukiman, masyarakat akan kesulitan mengambil hasilnya ketika jalan rusak atau terjadi longsor.
SUDAH SAATNYA PEMERINTAH MEMBANGUN GENERASI PETANI BARU
Pemerintah tidak cukup hanya mengajak anak muda menjadi petani. Pemerintah harus menciptakan keadaan yang memungkinkan mereka memperoleh kehidupan layak dari pertanian.
Banyak pemuda tidak mempunyai lahan sendiri. Lahan orang tua belum dibagi, luasnya terbatas, berada jauh dari permukiman, atau tidak mempunyai akses air. Apabila anak muda hanya ditawarkan cangkul, parang, pekerjaan berat, risiko gagal panen, dan pemasaran yang tidak pasti, tentu sulit mengharapkan mereka tertarik menjadi petani.
Pertanian harus diperkenalkan sebagai profesi modern dan kegiatan usaha yang menguntungkan. Anak muda harus memperoleh akses terhadap: lahan pertanian dengan kepastian hak pengelolaan; sumber air dan sistem irigasi; bibit bermutu dan pupuk; alat dan mesin pertanian; teknologi digital dan informasi cuaca; pelatihan produksi dan pengolahan hasil; modal usaha dan perlindungan risiko; koperasi yang sehat; dan kepastian pasar serta harga yang wajar.
Pemuda tidak harus selalu menjadi petani tradisional. Mereka dapat menjadi pengusaha pangan, pengelola alat pertanian, produsen benih, pengolah hasil panen, pengelola gudang, desainer kemasan, pemasar digital, atau penyedia jasa transportasi pertanian.
SEKOLAH HARUS MENGAJARKAN PERTANIAN DAN KEWIRAUSAHAAN PANGAN
Sekolah-sekolah di Flores perlu memberikan perhatian lebih besar pada pertanian tanaman pangan. Pendidikan pertanian tidak boleh hanya berupa teori atau kegiatan menanam sekali dalam setahun.
Setiap sekolah dapat mengembangkan kebun pendidikan tempat para siswa mempelajari: cara menanam pangan sesuai kondisi tanah Flores; pengelolaan air; penggunaan teknologi pertanian; pengolahan hasil panen; penyimpanan pangan; pencatatan biaya; pembuatan kemasan dan pemasaran dan perhitungan keuntungan.
Sekolah menengah kejuruan, perguruan tinggi, balai latihan kerja, dan lembaga pendidikan keagamaan perlu mengembangkan program pertanian modern yang sesuai dengan potensi setiap daerah.
Kita juga perlu mengubah pesan kepada anak-anak. Jangan lagi mengatakan:
“Belajarlah supaya nanti tidak menjadi petani.”
Sebaliknya, kita harus mengatakan:
“Belajarlah setinggi mungkin agar engkau dapat menjadi petani yang berilmu, modern, produktif, dan sejahtera.”
PEMERINTAH WAJIB MENYEDIAKAN PASAR YANG BAIK
Masalah terbesar petani bukan hanya bagaimana menanam, tetapi bagaimana menjual hasilnya dengan harga yang menguntungkan. Pemerintah tidak boleh hanya membagikan bibit dan pupuk, kemudian membiarkan petani mencari pembeli sendiri.
Sebelum petani menanam, harus ada kepastian mengenai: jenis tanaman yang dibutuhkan pasar; standar kualitas; jumlah permintaan; waktu panen; harga yang layak; pihak yang membeli dan sarana penyimpanan dan transportasi.
Pemerintah daerah dapat memprioritaskan hasil petani lokal untuk memenuhi kebutuhan sekolah, rumah sakit, asrama, hotel, restoran, pasar daerah, dapur umum, dan program makan bergizi.
Labuan Bajo dan berbagai daerah pariwisata di Flores seharusnya menjadi pasar besar bagi hasil pertanian masyarakat lokal. Hotel dan restoran perlu didorong untuk membeli sayuran, buah, beras, jagung, telur, daging, ikan, dan produk olahan dari petani Flores.
Dengan adanya kepastian pasar, anak muda akan melihat bahwa pertanian bukan sekadar pekerjaan untuk bertahan hidup, tetapi usaha yang dapat memberikan pendapatan dan masa depan.
INFRASTRUKTUR PERTANIAN HARUS MENJADI PRIORITAS
Petani tidak akan maju apabila hasil panen sulit dibawa keluar dari desa. Pemerintah harus membangun infrastruktur yang benar-benar mendukung produksi dan perdagangan pangan, meliputi: jalan menuju sentra pertanian; jembatan dan jalur alternatif; irigasi dan embung; pasar desa dan pasar kabupaten; gudang serta lumbung pangan; fasilitas pengering dan penyimpanan; rumah produksi dan pengemasan; kendaraan angkut; jaringan listrik dan komunikasi serta koperasi petani yang profesional.
Jalan pertanian bukan hanya sarana ekonomi. Dalam keadaan gempa, jalan tersebut juga menjadi jalur evakuasi dan distribusi bantuan. Gudang pangan bukan hanya tempat menyimpan hasil panen, tetapi juga menjadi cadangan ketika suatu desa terisolasi.
LUMBUNG PANGAN DESA HARUS DIHIDUPKAN KEMBALI
Setiap desa di Flores perlu mempunyai lumbung pangan yang dikelola secara transparan. Sebagian hasil panen masyarakat dapat dibeli atau disimpan sebagai cadangan. Persediaan harus dirotasi secara berkala agar tetap layak dikonsumsi.
Lumbung tersebut dapat menyimpan: beras; jagung; sorgum; ubi dan pisang yang telah diolah agar tahan lama; kacang-kacangan; ikan kering; minyak, garam dan gula; dan benih untuk penanaman kembali.
Setiap keluarga juga sebaiknya mempunyai persediaan pangan minimal untuk tujuh hari. Desa perlu menyiapkan cadangan awal selama 7–14 hari, sedangkan pemerintah kabupaten dan provinsi menyediakan stok penyangga untuk membantu wilayah yang mengalami kerusakan berat.
PERTANIAN ADALAH BAGIAN DARI MITIGASI BENCANA
Gempa Flores mengajarkan bahwa pertanian tanaman pangan bukan hanya urusan ekonomi. Pertanian merupakan bagian dari mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Apabila desa mempunyai kebun pangan, petani aktif, lumbung yang terisi, dapur umum, sumber air, jalan pertanian, koperasi, dan sistem distribusi yang baik, masyarakat tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan dari luar.
Bantuan pemerintah tetap diperlukan, terutama bagi keluarga yang rumah, dapur, kebun, dan persediaannya rusak. Namun, cadangan pangan lokal akan membantu masyarakat bertahan selama 24–72 jam pertama ketika tim penyelamat masih membuka jalan dan mendata wilayah terdampak.
SAATNYA BANGGA MENJADI PETANI
Flores tidak boleh hanya menjadi pasar bagi pangan dari luar. Flores harus mampu menanam, mengolah, menyimpan, dan memasarkan pangannya sendiri.
Kita harus membangun citra baru bahwa petani bukan simbol kemiskinan atau keterbelakangan. Petani adalah pengusaha pangan, pengguna teknologi, penjaga lingkungan, dan pahlawan ketahanan bencana.
Pemerintah, sekolah, gereja, lembaga adat, koperasi, dunia usaha, perguruan tinggi, dan keluarga harus bekerja bersama untuk melahirkan generasi petani Flores yang baru.
Gerakan yang diperlukan adalah:
SATU KELUARGA, SATU KEBUN PANGAN
SATU DESA, SATU LUMBUNG PANGAN
SATU SEKOLAH, SATU KEBUN PENDIDIKAN
SATU KABUPATEN, SATU SISTEM PASAR PANGAN LOKAL
Gempa ini harus menjadi momentum untuk membangun Flores yang lebih mandiri dan tangguh. Jangan menunggu bencana berikutnya untuk menyadari pentingnya petani dan cadangan pangan.
Ketika petani dihargai, lahan dikelola, pasar tersedia, infrastruktur dibangun, serta hasil panen disimpan dengan baik, masyarakat Flores tidak hanya mempunyai makanan untuk hari ini. Mereka juga mempunyai perlindungan untuk menghadapi krisis pada masa mendatang.
“Sedia payung sebelum hujan, sedia pangan sebelum bencana. Sebab siapa yang menanam pada masa tenang dan menyimpan pada masa berkelimpahan, akan lebih kuat menghadapi masa kesulitan.”
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA
CEO-KRQA-SQC Certification Services





