Floresupdate.com, Mbay – Gempa bumi dan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki kembali mengingatkan masyarakat Flores bahwa bencana tidak hanya berdampak pada kerusakan bangunan, tetapi juga menguji ketahanan konektivitas antarwilayah.
Ketika akses jalan terputus dan penerbangan terganggu, distribusi bantuan serta logistik kepada masyarakat terdampak ikut terhambat. Kondisi tersebut memperlihatkan pentingnya memiliki jaringan transportasi yang mampu menjadi jalur alternatif dalam situasi darurat.
Nagekeo menjadi salah satu daerah di Flores yang hingga kini belum memiliki bandara. Distribusi logistik dan mobilitas masyarakat masih sangat bergantung pada jalur darat dan laut yang juga rentan terganggu akibat longsor maupun kerusakan infrastruktur.
Situasi ini kembali menghidupkan urgensi pembangunan Bandara Mbay sebagai salah satu simpul transportasi udara strategis di Pulau Flores.
Gagasan tersebut dibahas dalam sebuah diskusi di Jakarta, 9 September 2026, yang dihadiri sejumlah tokoh NTT dan diaspora.
Anggota DPD RI asal NTT, Angelius Wake Kako (AWK), menegaskan bahwa Bandara Mbay tidak semestinya hanya dilihat sebagai kebutuhan Kabupaten Nagekeo, melainkan bagian dari sistem konektivitas Flores secara keseluruhan.
“Kita bicara tentang bandara untuk Flores, bukan hanya untuk kepentingan masing-masing kabupaten saja tetapi bagi Flores sebagai satu kesatuan. Itu berarti kita butuhkan bandar yang besar,” ungkap AWK di Jakarta, 10 September 2026.
Senator asal Ende tersebut mengatakan Flores membutuhkan simpul transportasi udara yang dapat menjadi alternatif ketika bandara lain mengalami gangguan akibat bencana.
“Masuk dari Labuan Bajo, keluar dari Maumere, misalnya. Namun, sudah dua tahun ini erupsi Gunung Lewotobi berdampak pada jalur penerbangan ke Bandara Frans Seda, Maumere. Alternatifnya adalah bandara baru di Mbay,” tambahnya.
Bukan Sekadar Jalur Evakuasi
Menurut AWK, keberadaan Bandara Mbay tidak hanya penting dalam konteks mitigasi dan penanganan bencana, tetapi juga memiliki nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi Flores.
Bandara tersebut dinilai dapat memperkuat konektivitas antarwilayah, memperlancar mobilitas masyarakat, membuka akses investasi, serta mendukung distribusi barang dan jasa.
Gempa bumi dan erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, kata dia, menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali sistem transportasi udara Flores yang berada di kawasan Ring of Fire.
Dalam diskusi tersebut, Justino yang berkecimpung dalam industri dirgantara Habibie Aerospace juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap rencana pembangunan Bandara Mbay.
“Gempa dan erupsi Gunung Lewotobi membuat kita harus berpikir ulang atau mereview khusus soal transportasi udara Flores di wilayah Ring of Fire. Tentu saya pun harapkan agar Pemda Nagekeo menyikapi serius karena soal lahan bandara selama ini masih menemukan kendala karena beririsan dengan lokasi pembangunan Brigif. Apakah kita perlu memikirkan lokasi baru, tentu sangat realistis,” tegasnya.
Lokasi Harus Tepat
Persoalan lahan menjadi salah satu tantangan utama dalam rencana pembangunan Bandara Mbay.
Ketua Ikatan Keluarga Besar Nagekeo (IKBN), Marsel Ado Wawo, mengingatkan agar pembangunan bandara tidak sampai mengorbankan lahan pertanian produktif milik masyarakat.
“Pemda Nagekeo diharapkan mencari lokasi yang mumpuni dan tidak mengorbankan lahan sawah produktif masyarakat petani. Bisa area Anakoli, Munde, dan lainnya,” ungkap Marsel.
Sementara itu, Justino menilai evaluasi lokasi perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain mempertimbangkan luas dan kelayakan lahan, pembangunan bandara harus disinkronkan dengan infrastruktur pendukung lainnya.
“Kita akan melakukan review terkait pembangunan bandara untuk Flores di Mbay agar selain lokasi baru yang lebih luas namun juga sinkronisasi dengan infrastruktur lain,” ujarnya.
Pelajaran dari Bencana
Wacana pembangunan Bandara Mbay bukan merupakan gagasan baru. Aspirasi mengenai pembangunan bandara tersebut sebelumnya juga sempat disampaikan masyarakat ketika Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Mbay.
Namun, rangkaian bencana yang terjadi di Flores kembali memberikan alasan kuat untuk meninjau secara serius kebutuhan tersebut.
Bandara Mbay dinilai tidak semata-mata menjadi proyek transportasi bagi Kabupaten Nagekeo, tetapi dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi membangun sistem konektivitas Flores yang lebih tangguh menghadapi bencana sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Bagi Flores, Bandara Mbay bukan sekadar proyek transportasi. Ia adalah pilihan untuk mempercepat bantuan saat bencana dan mempercepat pertumbuhan ekonomi saat keadaan normal.”
Diskusi tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh diaspora NTT, di antaranya Abraham Runga Mali, Yustin Djuang, Gusti T, dan Konrad Wawo.





