Bagi Agustinus Junto sendiri, kontribusi yang ia lakukan memiliki tujuan yang sederhana namun mendalam. Ia menyadari bahwa di tengah kemajuan zaman dan derasnya arus teknologi digital, umat membutuhkan ruang untuk kembali hening dan berdoa.
“Saya mungkin hanya membantu menghadirkan arca Bunda Maria, Tuhan Yesus, dan Santo Yosef sebagai sarana doa dan permenungan.
Harapan saya, kehadiran ini bisa memperkuat iman umat di tengah kemajuan zaman. Kita ingin umat tetap punya tempat untuk berdoa, merenung, dan mendekatkan diri kepada Tuhan.”
Ia juga meyakini bahwa dari tempat-tempat devosi sederhana itulah akan lahir kekuatan baru bagi umat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Saya percaya, dari doa-doa yang dibangun bersama, iman kita akan semakin kuat menghadapi krisis, dan persaudaraan di antara kita juga semakin erat.”
Kini, dari pusat kota hingga pelosok desa, arca-arca itu berdiri sebagai saksi bisu. Namun dari kesunyian itu, doa terus bergema.
Agustinus Junto mungkin tak banyak bicara. Tapi lewat arca-arca yang ia persembahkan, ia sedang “berbicara” kepada banyak orang tentang iman, tentang ketulusan, dan tentang bagaimana satu hati yang tulus bisa menghidupkan harapan di banyak tempat.