Maumere, floresupdate.com – Tidak semua jejak besar lahir dari sorotan. Di pelosok Flores, nama Agustinus Junto mungkin tak sering terdengar di panggung, namun karyanya berdiri nyata, kokoh, sunyi, dan terus menghidupkan doa.
Ia adalah anak kampung Wetakara, yang memilih memberi tanpa banyak bicara. Dari tangannya, arca-arca rohani hadir bukan sekadar simbol, tetapi menjadi napas kehidupan iman bagi umat di berbagai tempat.

Di Paroki Katedral Maumere, arca Santo Yosef yang ia persembahkan kini berdiri sebagai lambang keteladanan dan perlindungan bagi umat. Sementara di pelosok, seperti Stasi Napun Langir, hingga wilayah Labuan Bajo, arca Bunda Maria hadir sebagai tempat umat bersandar dalam doa.
Namun, kisah paling kuat tetap kembali ke tanah asalnya Wetakara. Di sana, bukan hanya satu, tetapi lima arca berdiri sekaligus. Kristus Raja Semesta Alam, Bunda Maria, serta para malaikat. Dari sebuah bukit yang dulu sunyi, kini menjelma menjadi ruang devosi yang hidup tempat umat datang, berlutut, dan membawa harapan.
Yang dibangun Junto bukan sekadar arca. Ia sedang menanam makna. Dari patung-patung itu, lahir kebersamaan. Dari tempat doa itu, tumbuh harapan. Dari kesederhanaan itu, iman menemukan rumahnya.
“Ia anak kampung ini, tapi hatinya untuk banyak orang. Apa yang ia berikan sangat dirasakan umat,” tutur seorang warga.

