Opini  

Dari Ngada ke Ende: Pena, Buku, dan Mimpi Anak-anak yang Terabaikan

Keterangan foto: Ketua Fraksi PSI Shukry Abdullah

Oleh : Sukri Abdullah, Anggota DPRD Kabupaten Ende

Floresupdate.com, OPINI – Meninggalnya seorang bocah di Kabupaten Ngada karena alasan yang begitu sederhana—tak mampu dibelikan pena dan buku—adalah luka terbuka bagi bangsa ini. Luka itu menganga, sebab di sanalah kita melihat dengan jujur: negara belum sepenuhnya hadir, belum sungguh-sungguh berdampingan dengan mimpi anak-anaknya yang paling pinggir.

Peristiwa ini menyita perhatian publik. Semua mata tertuju ke Ngada. Namun dalam sorotan itu, kita kerap lupa bahwa tragedi semacam ini bukanlah peristiwa tunggal. Ia adalah potret dari realitas yang lebih luas. Masih ada ribuan anak di Nusa Tenggara Timur yang hidup dalam pranata sosial yang rapuh, dengan mimpi yang bahkan terlalu sederhana untuk disebut mimpi besar.

Di Detupau, Karbo, dan Hedaria—kampung-kampung kecil di Desa Likanaka kecamatan Wolowaru Kabupaten Ende, hingga hari ini masih ada anak-anak yang memimpikan sesuatu yang bagi sebagian kita terasa remeh: jalan yang bisa dilalui dan listrik yang menyala di malam hari. Mereka tidak meminta gedung sekolah megah, tidak menuntut gawai mahal. Mereka hanya ingin belajar tanpa gelap dan berjalan tanpa terisolasi.

Sebagai seorang anggota legislatif, saya merasakan kepiluan yang mendalam. Kepiluan karena kami, para pengambil kebijakan, kerap kali lebih sibuk mengejar mimpi kami sendiri—ambisi, jabatan, dan kompromi—ketimbang menjaga mimpi paling sederhana anak-anak di pelosok yang oleh negara diberi label 3T.

Ironis. Ketika mimpi kami diperdebatkan di ruang-ruang berpendingin udara, mimpi mereka tertunda oleh ketiadaan jalan dan listrik. Tragedi di Ngada hanyalah satu wajah dari ribuan wajah sunyi yang belum benar-benar dijamah oleh kehadiran negara.

Dan jika peristiwa ini hanya kita tangisi tanpa koreksi kebijakan, tanpa keberpihakan yang nyata dan terukur, maka luka itu bukan lagi milik satu keluarga. Ia menjelma menjadi luka kolektif bangsa—bangsa yang perlahan kehilangan kepekaan dan nuraninya.

Pada titik inilah, tragedi kemanusiaan tidak boleh berhenti sebagai berita duka. Ia harus menjadi cermin, sekaligus pengingat bahwa ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah seberapa tinggi gedung yang kita bangun, melainkan seberapa jauh negara mampu memastikan tak ada anak yang kehilangan masa depan hanya karena pena dan buku.

Ya Rabb, ampunilah dosa-dosa kami dan dosa-dosa para pemimpin kami.

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan, Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!