Opini  

Jalan Paskah NTT: Dari Luka Energi Lama Menuju Terang Energi Bersih

Oleh: Teguh Lamentur Takalapeta, M.Fil (Founder Kenari.id)

    Opini, floresupdate.com – Paskah selalu membawa manusia pada satu kata kunci: pembaruan. Namun pembaruan itu tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari sebuah perjalanan iman yang utuh, melalui Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan barulah mencapai puncaknya pada Minggu Paskah. Karena itu, tema “Kristus yang Bangkit Membarui Kemanusiaan Kita” hanya dapat dipahami secara mendalam bila kita bersedia menelusuri seluruh jalan itu: dari penderitaan, keheningan, hingga kebangkitan.

    Jumat Agung mengingatkan kita bahwa pembaruan selalu berangkat dari keberanian menghadapi luka. Kristus tidak membarui dunia dengan jalan pintas, tetapi dengan menanggung beban paling berat dari kemanusiaan: ketidakadilan, kekerasan, dan penderitaan. Salib menyingkapkan kerapuhan sistem lama yang gagal menjaga kehidupan. Dalam terang ini, pembaruan bukanlah retorika optimistis, melainkan keputusan untuk mengakui bahwa cara lama yang eksploitatif, timpang, dan rapuh, tidak lagi memadai.

    Logika ini relevan ketika kita memandang krisis energi dan iklim hari ini. Ketergantungan pada sumber energi lama telah menimbulkan luka ekologis dan sosial yang nyata. Krisis iklim memburuk, ketidakpastian geopolitik mengguncang pasokan, dan kelompok rentan paling dahulu menanggung akibatnya. Seperti salib pada Jumat Agung, krisis ini memaksa kita jujur: ada sistem yang harus ditinggalkan karena tidak lagi memihak kehidupan.

    Namun jalan iman tidak berhenti di sana. Sabtu Sunyi menghadirkan ruang yang sering dihindari yaitu keheningan, ketidakpastian, dan kerja yang belum tampak hasilnya. Ini adalah hari di mana tidak ada sorak kemenangan, hanya kesetiaan menunggu. Dalam konteks pembangunan, Sabtu Sunyi menyerupai fase transisi: saat kebijakan dirancang, infrastruktur disiapkan, regulasi dirapikan, dan kolaborasi dibangun, semuanya sering berlangsung tanpa gemuruh, tanpa pujian, bahkan tanpa kepastian yang cepat.

    Transisi energi berada tepat di wilayah ini. Ia menuntut kesabaran politik, konsistensi kebijakan, dan kerja teknis yang tidak selalu populer. Keputusan meninggalkan energi lama menuju energi terbarukan adalah keputusan yang mahal di awal, penuh tantangan, dan sering dipertanyakan. Namun justru di fase “sunyi” inilah masa depan sedang dipersiapkan.

    Dalam konteks ini, Nusa Tenggara Timur perlu dibaca kembali. Selama bertahun-tahun, NTT kerap diposisikan dalam narasi kekurangan: kering, terpencar, dan tertinggal. Tetapi dalam peta transisi energi, wilayah ini justru menyimpan harapan besar. Limpahan cahaya matahari sepanjang tahun, bentang wilayah terbuka, dan kebutuhan riil akan sistem energi yang merata menjadikan energi surya bukan sekadar alternatif, melainkan jalan yang masuk akal.

    CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan, Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    error: Content is protected !!