Karena itu, sudah saatnya Pemerintah Daerah Kabupaten Ende mengambil langkah konkret dan serius: merevitalisasi seluruh situs sejarah Bung Karno secara berkelanjutan, memperkuat peran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pengelola utama, serta menghadirkan sistem edukasi yang hidup melalui pemandu sejarah di setiap situs.
Lebih jauh, sudah sepatutnya Ende ditegaskan sebagai Kota Pancasila, bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam kebijakan dan tindakan nyata.
Jika tidak, maka kita sedang menyaksikan sebuah paradoks besar: bangsa yang mengaku menjunjung tinggi Pancasila, tetapi justru lalai merawat tempat kelahirannya.
Pada akhirnya, ini bukan hanya tentang Ende. Ini tentang Indonesia.
Sebab ketika sejarah mulai dilupakan, maka identitas bangsa pun perlahan akan tergerus.
Rawatlah sejarah, atau kita akan kehilangan arah sebagai bangsa.
Karena Ende bukan hanya tentang masa lalu,
Ende adalah cermin masa depan Indonesia.





