Oleh: Fernando Theobaldus Agung Wejo Delu
Opini, floresupdate.com – Kabupaten Ende bukan sekadar wilayah administratif di Nusa Tenggara Timur. Ende adalah rahim sejarah bangsa, tempat di mana Soekarno merenung, menggali, dan merumuskan nilai-nilai luhur yang kemudian melahirkan Pancasila.
Dari tanah ini, ideologi bangsa Indonesia mendapatkan bentuknya. Maka, berbicara tentang Pancasila, Ende seharusnya menjadi lokomotif utama dalam merawat dan menghidupkan nilai-nilai kebangsaan.
Namun hari ini, kita dihadapkan pada kenyataan yang menyakitkan. Situs-situs bersejarah seperti Taman Renungan Bung Karno, Rumah Pengasingan Bung Karno, Makam Ibu Amsi, hingga Gedung Immaculata justru terkesan ditinggalkan.
Tempat-tempat yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran ideologi bangsa itu kini lebih tampak sebagai artefak sunyi yang perlahan kehilangan makna.
Pertanyaannya sederhana: di mana peran negara?
Ketika pemerintah daerah seakan mengesampingkan Ende sebagai bumi lahirnya Pancasila, maka yang terjadi bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan kelalaian ideologis. Ini bukan hanya soal bangunan yang tak terawat, tetapi soal ingatan kolektif bangsa yang sedang diabaikan.





