Floresupdate.com, Kupang — Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, dinilai telah meninggalkan jejak pembangunan yang cukup kuat di Nusa Tenggara Timur. Penilaian tersebut terutama didasarkan pada pembangunan infrastruktur, peningkatan konektivitas, pengembangan pariwisata, dukungan terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan, serta intensitas kunjungan kerja ke berbagai wilayah di NTT.
Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA, mengatakan bahwa masyarakat NTT pada umumnya menilai seorang pemimpin berdasarkan kehadiran dan hasil pembangunan yang dapat dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
“Bagi masyarakat, pembangunan tidak hanya dilihat dari besarnya anggaran atau banyaknya program yang diumumkan. Masyarakat melihat apakah jalan menjadi lebih baik, akses air semakin tersedia, pelabuhan dan bandara berkembang, pelayanan publik semakin dekat, serta peluang ekonomi semakin terbuka,” kata Karolus.
Menurutnya, salah satu kontribusi utama pemerintahan Jokowi di NTT terlihat melalui pembangunan dan peningkatan jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan, bandara, serta konektivitas antardaerah. Kondisi geografis NTT yang terdiri atas banyak pulau menjadikan infrastruktur transportasi sebagai kebutuhan penting bagi mobilitas masyarakat dan distribusi barang.
Pembangunan jalan dan jembatan dinilai membantu memperpendek waktu perjalanan, meningkatkan akses menuju sekolah dan fasilitas kesehatan, serta memperlancar distribusi hasil pertanian dan kebutuhan pokok. Sementara itu, pengembangan pelabuhan dan bandara memperkuat hubungan antarpulau dan membuka akses yang lebih luas bagi kegiatan ekonomi daerah.
Pengembangan Labuan Bajo
Perhatian pemerintah terhadap sektor pariwisata juga terlihat melalui pengembangan Labuan Bajo sebagai salah satu destinasi pariwisata prioritas nasional. Pembangunan dan penataan kawasan tersebut telah meningkatkan daya tarik NTT sebagai tujuan wisata nasional maupun internasional.
Pengembangan Labuan Bajo tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kawasan wisata, tetapi juga memberikan dampak bagi sektor perhotelan, restoran, transportasi, UMKM, kerajinan, pemandu wisata, pertanian, dan perikanan.
“Labuan Bajo telah menjadi salah satu pintu utama yang memperkenalkan NTT kepada dunia. Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat pariwisata semakin dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal,” ujarnya.
Selain pariwisata, perhatian terhadap wilayah kepulauan dan perbatasan juga dinilai semakin terlihat. Pembangunan fasilitas publik dan peningkatan konektivitas di daerah perbatasan memiliki arti penting, tidak hanya bagi pelayanan masyarakat, tetapi juga bagi penguatan kedaulatan negara.
Air, Pertanian, dan Ketahanan Pangan
Persoalan air masih menjadi salah satu tantangan utama di NTT. Oleh karena itu, pembangunan bendungan, embung, jaringan irigasi, dan sarana air bersih dipandang memiliki nilai strategis bagi masyarakat.
Infrastruktur air tidak hanya dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga, tetapi juga untuk mendukung pertanian, peternakan, dan ketahanan pangan. Ketersediaan air yang lebih baik diharapkan dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap musim hujan serta meningkatkan produktivitas lahan pertanian.
Program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat juga menjadi bagian dari kebijakan yang dirasakan oleh keluarga penerima manfaat. Bagi masyarakat kecil, bantuan pangan, akses pelayanan kesehatan, dukungan pendidikan, dan program perlindungan sosial merupakan kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari.
Kehadiran Pemimpin Meninggalkan Kesan
Karolus menilai salah satu kekuatan Jokowi adalah gaya kepemimpinannya yang sederhana dan kemampuannya membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Kunjungan kerja yang dilakukan ke berbagai kabupaten dan kota di NTT dinilai memberikan kesan bahwa pemerintah pusat hadir dan memberikan perhatian kepada wilayah timur Indonesia.
Bagi masyarakat NTT, seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari pidato atau kebijakan di tingkat nasional, tetapi juga dari kesediaannya datang, melihat kondisi masyarakat, mendengarkan aspirasi, serta memastikan pembangunan berjalan di daerah.
“Kritik merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, masyarakat juga memiliki hak untuk menilai seorang pemimpin berdasarkan pengalaman dan hasil pembangunan yang mereka rasakan sendiri,” katanya.
Ia menambahkan, kecintaan sebagian masyarakat NTT kepada Jokowi tidak dapat dilepaskan dari kedekatan emosional, intensitas kunjungan, serta hasil pembangunan yang masih digunakan hingga saat ini.
Pembangunan Belum Menyelesaikan Semua Persoalan
Meski demikian, pembangunan pada masa pemerintahan Jokowi tidak berarti seluruh persoalan di NTT telah selesai. Kemiskinan, pengangguran, stunting, keterbatasan air, kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan ketimpangan pembangunan antarwilayah masih menjadi pekerjaan besar bagi pemerintah pusat dan daerah.
Karena itu, pembangunan yang telah dilakukan perlu dilanjutkan, dipelihara, dan ditingkatkan agar manfaatnya semakin merata sampai ke masyarakat pedesaan, wilayah kepulauan, dan daerah terpencil.
“Sejarah harus dinilai secara adil. Kekurangan tetap perlu dikritik dan diperbaiki, tetapi pembangunan yang telah memberikan manfaat kepada masyarakat juga patut diakui,” ujar Karolus.
Menurutnya, pada akhirnya masyarakat akan mengingat seorang pemimpin bukan hanya dari kata-katanya, tetapi dari kehadiran, perhatian, dan hasil kerja yang ditinggalkan.
“Orang boleh mengkritik dari kejauhan, tetapi rakyat tidak mudah melupakan pemimpin yang pernah hadir, bekerja, dan meninggalkan pembangunan yang dapat mereka rasakan,” tutupnya.
Penulis: Dr. Ir. Karolus Karni Lando, MBA
CEO KRQA–SQC Certification Services




