Tragedi di NTT ini adalah alarm keras atas kegagalan sistemik negara dalam melindungi warganya yang paling lemah:
- Negara gagal menjamin kebutuhan dasar anak
Ketika seorang anak putus asa hanya karena buku dan alat tulis, maka pendidikan “gratis” terbukti tidak benar-benar gratis. Bantuan sosial tidak menjangkau yang paling membutuhkan, dan negara gagal hadir di level paling dasar kehidupan warga. - Ketimpangan wilayah dibiarkan menjadi takdir
NTT terus diperlakukan sebagai statistik, bukan darurat kemanusiaan. - Negara reaktif, bukan preventif
Negara baru hadir setelah tragedi. Sistem perlindungan dini tidak bekerja. - Retorika kepedulian tak sebanding dengan kebijakan
Ucapan duka tidak cukup jika kebijakan tetap abai.
“Negara boleh besar, anggaran boleh triliunan. Tapi jika anak paling rentan dibiarkan hancur, maka republik hanya tinggal sebuah nama.”




