Selain itu, parade budaya juga memperkuat rasa kebersamaan. Ketika mahasiswa dari berbagai daerah tampil dengan ciri khas masing-masing, di situlah tercipta ruang dialog budaya yang sehat. Tidak ada budaya yang lebih tinggi atau lebih rendah, semua berdiri sejajar sebagai bagian dari kekayaan Indonesia.
Hal ini sangat penting dalam membangun sikap toleransi dan saling menghargai di lingkungan kampus. Saya pribadi merasa bangga melihat IKBNK bisa tampil dengan penuh percaya diri dalam parade tersebut.
Penampilan mereka bukan hanya menunjukkan keindahan busana dan tarian, tetapi juga membawa pesan bahwa budaya adalah identitas yang harus dijaga, bukan dilupakan. Ini menjadi contoh bagi organisasi daerah lainnya untuk terus aktif dan berkontribusi dalam kegiatan kampus.
Namun demikian, saya juga berpendapat bahwa kegiatan seperti ini tidak boleh berhenti hanya pada acara parade. Harus ada keberlanjutan, misalnya melalui diskusi budaya, pelatihan seni tradisional, atau kegiatan lain yang lebih mendalam. Dengan begitu, pelestarian budaya tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga substansial.
Pada akhirnya, parade budaya di kampus adalah cerminan kecil dari Indonesia itu sendiri beragam, penuh warna, dan kaya akan identitas. Melalui partisipasi IKBNK, kita diingatkan bahwa di tengah kesibukan sebagai mahasiswa, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan budaya asal kita.
Dan bagi saya, inilah makna sesungguhnya dari menjadi mahasiswa: tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga memahami, menghargai, dan memperjuangkan identitas yang kita miliki.





