Opini  

DEDE PADAMA: MAHASISWA SEMESTER I YANG SUDAH BELAJAR MEMIMPIN DENGAN HATI

Anak muda boleh melangkah jauh, tetapi jangan pernah meninggalkan adat dan kesantunan; sebab dari sopan santun tumbuh kepercayaan, dan dari kepercayaan lahir kepemimpinan.” Dr. Ir. Karolus KARNI LANDO, MBA -CEO KRQA-SQC Certification Services

Floresupdate.com, OPINI – Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa yang terjadi di Alor. Bukan hanya soal hadirnya perhatian pemerintah pusat dan pemerintah provinsi, tetapi juga tentang bagaimana suara seorang anak muda mampu membuka pintu perhatian bagi masyarakatnya.

Dede—seorang mahasiswa yang bahkan baru memasuki semester pertama—telah menunjukkan sesuatu yang tidak selalu dimiliki oleh mereka yang sudah lama berkecimpung dalam dunia politik dan pemerintahan. kemampuan membaca situasi, memahami kepada siapa ia harus berbicara, kapan harus berbicara, dan bagaimana menyampaikan sebuah permohonan dengan hati.

Lobi Dede kepada Menteri Pertanian RI, Bapak Andi Amran Sulaiman akhirnya membuahkan hasil yang kemudian dirasakan oleh Masyarakat Alor. Kehadiran perhatian pemerintah pusat dalam waktu yang relatif cepat menunjukkan bahwa aspirasi yang disampaikan Dede tidak berhenti sebagai sebuah keluhan atau permintaan biasa.

Lebih dari itu, suara seorang mahasiswa muda ternyata mampu menggerakkan perhatian pemerintah.Bahkan, dinamika yang terjadi kemudian membuat perangkat pemerintah di Provinsi NTT ikut bergerak. Wakil Gubernur NTT pun hadir di Alor di luar jadwal kunjungan yang telah direncanakan sebelumnya.
Ini tentu bukan sesuatu yang sederhana.

Para pemimpin daerah di Alor, para tokoh masyarakat, maupun orang-orang Alor yang telah lama berada di berbagai tempat di Indonesia tentu memiliki kapasitas dan jaringan masing-masing. Namun, peristiwa ini memberikan sebuah pelajaran penting.

Kadang-kadang bukan siapa yang paling tinggi jabatannya yang paling cepat didengar, tetapi siapa yang mampu menyampaikan suara rakyat dengan ketulusan dan cara yang tepat.

Dede datang bukan sebagai pejabat.
Ia bukan anggota DPR.
Ia bukan kepala daerah.
Ia bahkan baru seorang mahasiswa semester pertama.

Tetapi justru dari posisi itulah muncul sesuatu yang menarik. Ia berbicara tanpa membawa kepentingan jabatan. Ia menyampaikan permohonan dengan bahasa yang santun. Ia memahami siapa yang sedang diajak berbicara. Dan yang paling penting, ia mampu menunjukkan bahwa apa yang disampaikannya berasal dari kepedulian terhadap masyarakat.
Air mata yang keluar ketika menyampaikan aspirasi bukan sekadar air mata.

Bagi banyak orang, itu bisa menjadi simbol bahwa ada perasaan yang benar-benar hidup di dalam dirinya. Ada rasa sayang kepada masyarakat Alor. Ada kegelisahan melihat persoalan masyarakat. Dan ada keinginan agar pemerintah hadir memberikan solusi.
Seorang Menteri tentu sudah bertemu dengan begitu banyak orang. Setiap hari berbagai kelompok masyarakat, pejabat, pengusaha, politisi, tokoh daerah dan organisasi datang menyampaikan kepentingannya.

Karena itu, tidak mudah membuat seorang pejabat negara memberikan perhatian khusus terhadap sebuah permohonan.

Tetapi ketika seseorang datang dengan kesantunan, ketulusan, pemahaman budaya, dan keberanian menyampaikan apa yang dirasakan masyarakat, pesan itu bisa memiliki kekuatan yang berbeda.
Di sinilah Dede memberikan pelajaran penting.

MENGERTI KAPAN BERBICARA DAN KEPADA SIAPA BERBICARA
Kecerdasan seorang calon pemimpin bukan hanya diukur dari berapa banyak buku yang telah dibaca atau berapa tinggi pendidikan yang telah dicapai.
Kecerdasan kepemimpinan juga terlihat dari kemampuan seseorang membaca keadaan.
Kapan harus berbicara.Kapan harus mendengar.Kepada siapa harus berbicara.Bagaimana cara berbicara.Dan untuk siapa ia berbicara.
Dede tampaknya memahami hal itu.

Sebagai anak muda Alor, ia juga menunjukkan bahwa memahami kultur dan karakter masyarakat adalah modal kepemimpinan yang sangat penting.

NTT memiliki budaya yang sangat kuat. Masyarakat NTT menghargai kesantunan, penghormatan kepada orang yang lebih tua, hubungan persaudaraan, ketulusan, dan keberanian menyampaikan kebenaran dengan cara yang bermartabat.

Ketika seorang anak muda mampu membawa nilai-nilai tersebut dalam berkomunikasi dengan pemerintah pusat, maka ia tidak hanya sedang berbicara sebagai pribadi. Ia sedang membawa suara dan karakter masyarakatnya.
Dan mungkin itulah salah satu alasan mengapa peristiwa ini mendapatkan perhatian luas dari masyarakat NTT yang mengetahuinya.

Dede belum selesai belajar.
Justru ia baru memulai perjalanan pendidikannya sebagai mahasiswa.
Tetapi kehidupan sering kali memberikan pelajaran kepemimpinan jauh sebelum seseorang mendapatkan gelar, jabatan atau kekuasaan.

Kepemimpinan tidak selalu dimulai dari kursi kekuasaan. Kadang-kadang kepemimpinan dimulai dari keberanian untuk peduli.

CALON PEMIMPIN MASA DEPAN?
Apakah Dede sudah menjadi seorang pemimpin?
Tentu belum dalam pengertian formal.
Tetapi apakah ia menunjukkan bibit-bibit kepemimpinan? Itu yang layak untuk diperhatikan.

Seorang anak muda yang mampu mendapatkan perhatian seorang Menteri, kemudian membuat pemerintah bergerak memberikan respons terhadap kebutuhan masyarakat, tentu memiliki daya komunikasi dan daya pengaruh yang patut dicermati.
Apalagi jika kemampuan tersebut dibangun bukan dengan kesombongan, bukan dengan menghardik, bukan dengan merasa paling tahu, tetapi melalui kesantunan, penghormatan dan ketulusan.
Itulah modal yang sangat berharga.

Dede masih memiliki perjalanan panjang.
Ia masih harus menyelesaikan pendidikan, memperluas wawasan, belajar tentang pemerintahan, ekonomi, politik, hukum, masyarakat dan berbagai persoalan pembangunan.

Yang paling penting, jangan sampai perhatian publik yang datang hari ini membuatnya kehilangan kerendahan hati.

Jika ia mampu menjaga karakter tersebut, terus belajar, memperluas pengalaman, tetap dekat dengan masyarakat dan menggunakan kemampuannya untuk kepentingan orang banyak, maka bukan tidak mungkin apa yang kita lihat hari ini hanyalah awal dari perjalanan panjang seorang calon pemimpin masa depan.

Karena pemimpin yang besar tidak selalu lahir dari mereka yang sejak awal berada di panggung kekuasaan.

Kadang-kadang, ia muncul dari seorang anak muda yang masih duduk di bangku kuliah, kemudian suatu hari berdiri di hadapan orang besar, menyampaikan permohonan dengan suara yang santun, dengan mata yang berkaca-kaca, dan berkata dari dalam hati:

“Saya datang bukan untuk diri saya. Saya datang untuk masyarakat saya.”

Dan mungkin, di situlah kekuatan Dede.
Ia masih mahasiswa semester pertama, tetapi sudah memahami satu hal yang sangat penting dalam kepemimpinan: mengetahui kapan harus berbicara, kepada siapa harus berbicara, bagaimana harus berbicara, dan untuk siapa ia harus berbicara.
Itulah kepemimpinan yang dimulai dari hati.

Dr. Ir. Karolus KARNI LANDO, MBA

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan, Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!