Mengetahui hal tersebut, Ferdinand mendatangi rumah Tobias Dega untuk memastikan kepemilikan ternak tersebut. Keduanya kemudian menuju lokasi.
“Di sana, Om Tobias mengakui sapinya. Satu lagi diketahui milik Kepala Desa,” ungkap Ferdinand.
Ia juga menjelaskan bahwa keberadaan parang saat itu bukan untuk mengancam, melainkan untuk memastikan apakah sapi tersebut benar-benar memakan padi miliknya.
“Saya hanya ingin memastikan. Kalau tidak terbukti, saya siap bertanggung jawab. Tapi kalau terbukti, pemilik ternak juga harus bertanggung jawab,” jelasnya.
Ferdinand mengaku kecewa karena ternak yang merusak lahannya diduga milik pejabat publik yang seharusnya memberi contoh kepada masyarakat.
Meski sempat memanas, persoalan tersebut tidak berlanjut ke ranah hukum. Ferdinand memilih menyelesaikannya secara adat melalui ritual Keta Ja sebagai bentuk pemulihan dan perdamaian.
“Kami sudah sepakat, sudah dilakukan ritual adat, dan saling memaafkan. Masalah ini sebenarnya sudah selesai,” katanya.
Namun demikian, ia menyayangkan munculnya pemberitaan yang dinilainya tidak berimbang dan justru memperkeruh situasi yang telah damai.
“Yang terjadi sekarang, saya justru diposisikan sebagai pelaku, padahal saya korban. Tanaman saya dirusak,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya profesionalisme dalam kerja jurnalistik, agar informasi yang disampaikan ke publik tetap berimbang dan tidak dipengaruhi kepentingan tertentu.
“Media harus menyajikan fakta secara utuh dan berimbang, agar tidak menyesatkan opini publik,” pungkasnya.



